Membangun Blog dengan AI Content Writing Tools (Studi Kasus)

Pada studi kasus kali ini saya coba bikin website dengan bantuan AI dalam membuat artikelnya. Kebetulan sekarang kan lagi booming banget di kalangan blogger.

Kayaknya udah cukup banyak website yang saya bikin dengan bantuan AI. Cuma, sejauh ini ga ada yg saya tulis jadi studi kasus. Bisa aja sih bikin artikel dengan data dari website-website yang udah dibikin. Cuma untuk studi kasus, kayaknya lebih asik kalau bikin dari awal.

Biar ntar keliatan hasilnya juga; apakah bisa naik, atau malah jeblok?

Studi kasus blog AI

Permasalahan

Hal yang saya rasakan saat ini, kayaknya Google dan search engine lain mulai lebih ketat dalam masukin website baru ke dalam index mereka. Di Google, kadang harus nunggu cukup lama sampai website terindex dengan lancar. Bing juga sama. Kadang malah ga bisa masuk sama sekali.

Untuk studi kasus kali ini, saya mau coba bikin beberapa website sekaligus. Kali aja ntar ada satu aja yang naik. Mudah-mudahan aja semuanya ntar bisa dapat visitor lumayan.

Metode Pembuatan

Untuk artikel, kayaknya sih mau pakai beberapa cara sekaligus;

  • Manual. Pembuatan konten satu per satu.
  • Bulk/Spam. Pembuatan artikel secara massal.

Untuk domain, saya akan pakai beberapa domain juga;

  • Menggunakan domain website yang udah jalan.
  • Menggunakan expired domain.
  • Menggunakan fresh domain.

Jenis blog yang rencananya mau dibikin;

  • Manual. Konten hasil generate AI diperiksa dan di optimasi secara manual.
  • Semi spam. Konten massal, tapi rada-rada diperiksa sebagian, ada sedikit internal link, dll.
  • Spam. Konten sebanyak mungkin, posting langsung tanpa ini-itu.

Kayaknya sih bertahap ntar bikinnya. Untuk sekarang, rencananya mau bikin di website yang udah jalan dan di expired domain dulu. Ntar akhir bulan baru bikin menggunakan fresh domain.

Saya pakai website yang udah jalan, karena kebetulan ada beberapa website yang sematcam mati suri. Ga naik sampe sekarang visitornya. Dari pada gitu doangan, ya mendingan dijadiin objek studi kasus aja ya..wkwk

Jumlah blog yang mau saya bikin/kembangkan belum tahu berapa. Total awal kayaknya sekitar 3-5 blog. Bisa sekaligus banyak studi kasusnya karena disini menggunakan bantuan AI dalam bikin artikelnya. Dulu, bikin studi kasus itu terkendala bikin konten yang manual, lama. Sekarang bukan masalah lagi.

Nah, untuk garis besar yang akan saya lakukan, bisa dicek di bawah ini. Nanti untuk detailnya kemungkinan bakal sedikit berbeda di setiap blog studi kasus. Jadi, nanti akan saya tuliskan terpisah di setiap blog studi kasus aja. Biar ga ribet dan pabaliut.

Ngapain ribet? hajar aja langsung, tinggal generate artikel, posting sebanyak mungkin!

ih namanya juga usaha. Kali aja bisa naik, dapet visitor lumayan, dan awet layaknya web biasa. Kalau gagal ya ga apa-apa namanya juga usaha (ngeles).

Tools AI yang Digunakan

Tools AI yang akan saya gunakan antara lain:

  • Chat gpt
  • Openai Playground
  • Google Bard
  • Bing chat
  • Microsoft designer (untuk image)
  • Midjourney/Dall E (untuk image)
  • Raita AI (untuk bulk generate artikel dengan Open AI)

Ntar dalam pemakaiannya fleksibel aja sih kayaknya.

Pemilihan Niche Blog

Rencana awal saat ini, saya akan cari niche yang artikelnya mudah di replikasi dengan AI content generator. Saya bagi nanti menjadi dua jenis;

  • Niche yang mudah di replikasi secara manual.
  • Niche yang mudah di replikasi dengan tools otomatis.

Replikasi secara manual disini maksudnya, si konten bisa mudah dibikin dengan menggunakan prompt dan SOP tertentu di Chat GPT, Openai playground, Google Bard, Bing Chat, dll. Entah itu dengan menyediakan data terlebih dulu, atau langsung bikin dengan prompt khusus.

Sedangkan replikasi dengan tools otomatis (Raita), saya pilih nanti niche yang non teknis. Niche yang isi artikelnya ngacapruk juga ngga terlalu masalah..wkwk

Ngacapruk = Ngelantur, fiksi, ngarang (bahasa sunda)

Niche yang cocok di build dengan AI

Untuk blog yang kontennya dibikin manual (ngga otomatis), saya pikir setiap niche bisa dibikin sih. Tinggal menyesuaikan di proses pembuatanya aja; apakah butuh dikasih data saat generate konten atau ngga?

Untuk blog yang kontennya dibikin secara massal dengan AI, saya pikir niche yang cocok idealnya memenuhi syarat ini;

  • Topik bersifat umum, tidak teknikal.
  • Pembahasan topik cukup banyak di internet.
  • Bukan topik baru. Misal semacam Hp terbaru, trend terbaru, berita terbaru dll. Idealnya si topik udah banyak informasinya dari tahun 2021 ke bawah.

Niche yang saya pilih apa? Ntar deh di akhir studi kasus rencananya saya cantumkan sekalian dengan websitenya. Rencana, aja, kondisional..wkwk. Tapi kayaknya minimal satu website ntar akan saya tulisin saat studi kasus udah ada hasilnya. Lagian sekarang masih nyari juga ini teh. Saya mau coba nyari juga niche yang belum saya garap dengan AI.

Target visitor dan negara, rencananya akan bikin website dengan target visitor Indonesia dan juga luar.

Atau kondisional.. intinya mah kumaha engke sajah.

Riset Keyword

Setelah dapat niche targetnya ntar, baru riset keyword (isi artikelnya belum sy update, masih jadul). Riset keywordnya ngga jauh beda sih. Sama aja seperti riset keyword seperti biasa.

Cara/tools untuk riset keyword yang akan saya gunakan;

  • Google (suggestion, related search, image)
  • Google search console
  • Bing webmaster
  • Google trend
  • Ekstensi Keyword Everywhere
  • Semrush
  • Writerzen
  • Copy keyword dari web lain via sitemap

Intinya sih menggunakan tools keyword research, dan copy dari sitemap website lain. Untuk tools riset keyword, kebetulan saat ini seringnya pakai yang di list di atas. Beberapa tools saya pakai karena kebetulan punya/subscribe.

Bebas aja sih mau pakai apa juga. Yang penting, ntar bisa dapetin list keywordnya aja. Misal mau pakai Semrush tapi kemahalan, mungkin bisa coba ikut group buy seperti disini. Tapi saya menyarankan nantinya mah langganan sendiri aja ya kalau udah ada budgetnya.

Optimasi Website

Khusus untuk website, rencananya ntar bakal fokus dulu ke optimasi onpage. Off page/backlink menyusul aja (entah kapan).

Kalau kita lihat sekarang, kebanyakan web yang menggunakan AI content cenderung ngga optimal dari segi onpage. Terutama website-website yang artikelnya dibikin secara massal dengan AI.

Banyak yang ngga mikirin tentang format artikelnya, internal link, atau hal-hal standar mendasar dalam optimasi onpage. Kayaknya sayang aja sih ya? Pembuatan artikel udah dipermudah banget dengan bantuan AI. Tinggal usahain dikit optimasi onpagenya.

Jadi nanti, saya usahakan setiap blog di studi kasus ini akan optimasi dari segi internal link minimalnya. Paling tidak, ntar si konten di publish dengan model silo struktur.

Kecuali blog yang emang dibikin secara spam, ya hajar langsung aja itu mah..wkwkk

Selain Onpage SEO, kayaknya ntar mau sekalian optimasi untuk sosmed semacam Pinterest, facebook, dll. Biar sekalian jalan.

Optimasi Artikel AI

Salah satu fokus saya ntar ke sini. Saya sering lihat mode artikel yang ga jauh beda di banyak website yang dibikin dengan AI artikelnya. Biasanya keliatan banget dari segi bahasa, tone artikel, dan format.

Kayaknya sih karena menggunakan Prompt yang relatif sama saat bikin artikelnya.

Ini yang saya pegang saat ini; Intinya dalam prompting untuk bikin artikel; bikin sesuai kebutuhan, sesuaikan dengan keinginan.

Untuk itu, kita perlu tahu dulu mau bikin format artikel seperti apa:

  • Model listicle?
  • Model penjelasan?
  • Guide atau tutorial?
  • Butuh ada table ngga?
  • Perlu pakai FAQ atau tidak?
  • Gaya bahasa/tone artikel kayak gimana?
  • Target visitornya buat siapa?
  • dll

Kalau udah tahu mau bikin artikel model apa aja, baru deh ntar nyiapin prompt yang sesuai.

Fokus saya untuk artikel AI saat ini (selain dari format artikel di atas);

  • Pembukaan/opening artikel yang sesuai (sebagus mungkin).
  • Panjang artikel.

Opening artikel sebisa mungkin unik, dan bisa menggambarkan secara umum isi dari artikelnya. Bisa pakai model AIDA, PAS, atau sejenisnya.

Panjang artikel, ini menyesuaikan dengan niche/keywordnya. Pertimbangkan rata-rata panjang artikel di web yang ada di page one. Ini bisa kita jadiin patokan. Tapi ini bukan patokan baku saya pikir. Bisa aja ntar artikel kita jauh lebih panjang. Misal semacam artikel yang perlu ada contoh/sample, kita bisa bikin lebih panjang dengan menambahkan contoh yang lebih banyak.

Untuk blog-blog studi kasus, rencana saya nanti akan mempertimbangkan hal-hal ini dalam membuat prompt yang sesuai.

Garis Besar Langkah Teknis

Garis besar langkah-langkah teknis yang sy lakuin ntar (untuk semua blog studi kasus disini) :

  • Menentukan niche.
  • Mengumpulkan keyword.
  • Membuat silo struktur berdasarkan keyword yang udah dikumpulkan. Satu blog bakal banyak sub silo struktur kayaknya.
  • Menentukan format-format artikel yang mau dibikin ntar.
  • Menyusun prompt yang sesuai dengan format yang mau dibikin.
  • Build konten/artikel. Setiap konten utama saya cek juga di Grammarly, tapi ngga juga ga masalah sih. Kebiasaan aja.
  • Install dan setting website (pakai cms wordpress). Hosting di Vultr dan Hawkhost.
  • Untuk web target luar, pakai CDN dari sini
  • Sambungin ke Google search console, Google analytics, Looker studio (Google data studio), Bing webmaster, Ahrefs webmaster, Yandex, Naver (opsional).
  • Setting indexnow, otomatis pakai Rank Math
  • Untuk blog yang dibangun dari awal (bukan blog yang udah jalan), konten di posting dikit-dikit sampai terlihat indexnya lancar.

Bing webmaster, Google search console (GSC), Yandex webmaster, dipakai buat ngumpulin Query pencarian/keyword yang masuk. Looker (Google data studio) dipakai buat melihat keseluruhan query dari GSC yang masuk.

Kira-kira begitu aja sih. Ntar detail lebih lengkap menyusul saat update.

Data Awal Blog-Blog Studi Kasus

Blog 1 (Build di blog yang udah jalan)

Google Analytics awal:

blog 1 awal

Blog ini udah berjalan cukup lama, cuma ga naik-naik sampe sekarang. Visitornya ya gitu deh. Untuk blog ini, rencananya mau di isi artikel massal tanpa optimasi onpage. Konten dibuat dengan Raita.

Blog 2 (Build di blog yang udah jalan)

Google Analytics awal:

blog 2 awal

Blog ini juga udah berjalan cukup lama. Rencananya mau di isi artikel semi manual, ada sedikit optimasi onpage (silo struktur). Kayaknya mau tes juga target visitornya beda negara. Konten dibuat dengan Raita.

Blog 3 (Expired Domain)

Blog ini hasil beli duluu banget. Deleted domain target Indonesia, bekas redirect 301. Dulu beli sebelum pandemi kayaknya. Sampe sekarang belum di bangun karena lupa..wkwkk

Ga tau ntar bakal bisa naik atau tidak. Posisi saat ini di isi 2 artikel ngasal, ga ada trafik. Beberapa referring domainnya:

blog 3 awal

Karena bekas website Indonesia, targetnya mau Indonesia juga. Rencana mau di isi dengan artikel AI manual.

Blog 4 (Fresh Domain)

Menyusul, belum beli. Rencananya mau ngambil branded domain, mau di isi dengan artikel AI manual. Saya biasanya beli domain di sini.

Segini dulu untuk sekarang. Kalau ngedadak ada tambahan blog yang mau di build dan dijadiin studi kasus, akan saya update dimasukin ke list. Ntar kalau ada langkah tambahan, akan saya update juga disini.

Update Studi Kasus

Update 17 Juli 2023

Blog 1 (Build di blog yang udah jalan tanpa optimasi)

Artikel yang di posting sekitar 500 artikel, sejauh ini ada kenaikan lumayan dari visitornya. Udah mulai nyentuh 400 visitor/hari.

update pertama blog 1

Di statistik di atas ada ngedrop beberapa hari. Ini karena hostingnya (Hawk Host) server New York tempat web ini di hosting sempat offline beberapa hari. Kebakaran katanya data centernya.

Dari sekitar 500 artikel yang udah diposting, kayaknya baru setengahnya masuk index. Sisanya belum, statusnya masih Discovered – currently not indexed. Tak biarin aja dulu.

Sekarang mau saya daftarin ke Adsense dulu. Mudah-mudahan di terima.

Blog 2 (Build di blog yang udah jalan + optimasi onpage)

Trafik sejauh ini:

web 2

Pada blog yang ini, jumlah artikel terposting sekitar 150. Sejauh ini belum keliatan ada kenaikan visitor. Yang ada, visitornya turun sedikit demi sedikit..wkwkk. Sekarang daily visitor sekitar 81-100an.

Artikel baru yang terindex sekitar 60an. Indexnya sedikit demi sedikit berkurang. Saya mau coba sedikit ubah dan oprek ntar.

Blog 3 (Expired Domain)

Nah blog yang ini belum ada keliatan ini dan itu, secara baru posting 7 artikel..wkwkk. Btw, lupa juga ngga pasang Analytics disini, jadi cuma screenshot Google search console aja untuk update sekarang.

web 3

Kelupaan terus untuk bikin artikel di blog yang satu ini. Ntar tak coba paksain di jadwalin untuk bikin artikelnya.

Blog 4 (Fresh Domain)

Belum ada update. Alasannya; Lupa beli. itu ajah..wkwkk

Update 27 Agustus 2023

Blog 1 (Build di blog yang udah jalan tanpa optimasi)

Blog pertama udah mulai ada kenaikan visitor. Pada update sebelumnya, visitor di 400an. Sekarang visitor harian udah mulai nyentuh 1000 visitor/hari.

update studi kasus web AI

Adsense baru di ajuin minggu kemarin dan di approve. Sepertinya lumayan, mudah-mudahan aja awet.

Jumlah Artikel sekarang, totalnya sekitar 650 artikel. Pada update sebelumnya, banyak artikel yang ngga masuk index (Discovered – currently not indexed). Sekarang udah pada masuk index. Artikel baru juga pas di cek, bisa masuk index dengan cepat. Hal yang sy lakuin cuma ini aja sih:

  • Bersihin/cleanup bagian header dari theme yang dipakai. Sebelumnya bejibun banget inline css disana. Tak pindahin ke file aja.
  • Setting plugin cache agar ngga otomatis clear semua cache post saat posting artikel baru. Saya setting untuk clear bagian blog list aja (homepage, category).

Rencana selanjutnya, mau coba kebut posting artikel lebih banyak. Biasanya sih kalau index udah lancar, bisa dikebut kedepannya. Pola saya sekarang kalau bikin web AI seperti ini sih, beda dengan tahun 2020-2022, bisa ngebut lancar dari awal.

Blog 2 (Build di blog yang udah jalan + optimasi onpage)

Ga ada posting artikel baru. Biasa alasannya mah, ga sempet..wkwk

Saya ganti tools statistiknya ke Yandex Metrica. Google Analytics lama udah ga jalan, pakai GA4 masih ga ngerti nyari dan setting menunya. Ribet pisaaan. Saya pasang Yandex Metrica khusus di bagian blog ini yang artikelnya dibikin dengan AI.

update studi kasus web AI

Total artikel masih sama, 150an. Visitor ke artikel-artikel AI sekitar 30-50 visitor/hari. Artikel yang terindex masih di kisaran 60an, turun-naik.

Blog 3 (Expired Domain)

No comment. Ga ada perubahan, belum posting baru, lupa juga sebulanan kemarin ga dibuka..wkwk

Blog 4 (Fresh Domain)

Akhirnya beli juga domain untuk blog yang satu ini…wkwkk

update studi kasus blog AI

Total jumlah artikel baru 19. Status artikel, semuanya udah keindex. Visitor antara 0-10/hari. Sejauh ini query yang masuk udah lumayan.

Btw, saya ga sempat bikin planning keyword dan topik untuk blog ini. Kayaknya mau coba cara ini aja; ngumpulin bahan artikel dari query yang masuk ke Google Search Console. Detailnya ntar aja di update selanjutnya.


Mudah-mudahan aja blog-blog studi kasus ini ntar bisa naik ya.. aamiin.

6 pemikiran pada “Membangun Blog dengan AI Content Writing Tools (Studi Kasus)”

  1. Ngebangun blog seperti ini, apakah beresiko hostingnya jika diletakkan bersama dengan moneysite? Dan untuk akun emailnya berarti harus buat email baru juga ya kang untuk setiap blognya (berbeda dengan email moneysite)?

    Balas
    • Sy biasanya blog model rada2 spam atau full spam/auto dipisahin sih om.. baik adsense ataupun akun google, bing, atau lainnya. Tapi ngga sampai setiap blog dipisahin.

      Ga ada alasan khusus sih kalau sy mah, biar gampang ngeceknya aja. Tapi kalau dirasa riskan, mending bener-bener pisahin aja antara web-web model spam dengan moneysite

      Balas
  2. Mau tanya mas, untuk cek artikel menggunakan Openai Playground apa harus lolos Unlikely to be AI-generated? atau seperti ini “Unclear if it is AI written” saja sudah bisa dianggap lolos

    Balas
    • Saya kebetulan ngga pernah cek dengan tools AI content detector. Asumsi sy sejauh ini mah, AI content detector ngga guna juga, ngejar+monetize ‘kekhawatiran’ dari blogger/webmaster aja.
      Saya paling cek plagiarism seperti biasa aja, dengan grammarly atau yg lainnya.

      Konten yang di generate AI dengan prompt standar, atau persis plek dengan yang digunakan banyak orang, tanpa tools juga bisa keliatan biasanya. Bisa dari struktur artikelnya, frase khas AI yg jarang dipakai orang beneran dalam tulisan, dll. Itu sebabnya sy pikir prompt yg digunakan sebisa mungkin khas/khusus untuk diri sendiri, ngga plek persis dengan yg lain. Sebisa mungkin ngga pakai satu prompt yg sama untuk ngisi satu website. Bikin beberapa set prompt disesuaikan dengan model artikelnya. Atau mungkin bikin prompt yang bisa generate dinamis strukturnya

      Balas

Tinggalkan komentar