Blog Micro Niche vs Broad Niche, Mana Yang Lebih Bagus

Saya pikir, niche yg lebih luas (broad niche) visitor dan peluang monetizenya lebih gede dibanding micro niche. Topik yang dibahas bisa lebih luas, dan potensi visitor juga lebih gede.

Tapii, tentunya ini subjektif. Tergantung sudut pandang masing-masing juga.

Broad niche site :

kasarnya mah website yang membahas satu topik yang cukup luas. Tapi, semua konten dalam blog tersebut masih dalam satu cakupan topik topik tersebut.

Contohnya : wisata, bisnis, finance, health, dll.

Micro niche site :

Kasarnya mah website yang membahas satu topik yang cakupannya cukup sempit. Biasanya topiknya berupa sub niche/bagian dari broad niche/

Contohnya : web wisata di Jakarta (tempat tertentu lainnya), kuliner jogja, web seputar satu produk elektronik tertentu ( VGA, powerbank, kursi roda, dll), web yg membahas satu merk produk tertentu (powerbank xiaomi, dll)

micro niche sites vs broad niche

Saya sendiri mah selalu bikin micro niche diawal. Tapi kedepannya tetap ngembangin blog yg awalnya micro niche tadi menjadi niche yg lebih luas (broad niche).

Alasannya;

1. Bikin micro niche diawal, lebih mudah optimasinya

Kita bisa lebih fokus ngegarap konten, internal link, dll saat membangun micro niche. Selain itu, sejauh ini lebih mudah juga dalam optimasi offpage nya (backlink,dll). Mungkin karena dalam micro niche topik relevansi nya lebih tinggi kali ya..

Tentunya tergantung keyword target juga sih..

2. Jadi fondasi saat mengembangkan website selanjutnya

Setelah kita berhasil optimasi satu topik micro niche, saat mengembangkannya ke topik lain biasanya jadi jauh lebih mudah.

Lebih mudah optimasi offpagenya, ngga perlu banyak backlink buat naik, dan lebih cepat dibanding ngebuild web micro niche baru dari awal.

Seringkali saat ngebangun topik micro niche lain, kita cukup tambah internal link dari topik micro niche yg udah masuk page one. Kadang kalaupun di backlink, prosesnya ngga seberat saat membangun topik micro niche pertama.

Efeknya seperti bola salju ntar.. semakin banyak topik micro niche yang masuk page one, semakin mudah nanti saat membuat dan optimasi topik micro niche lainnya.

Lihat juga: cara pasang iklan di google search

Contoh Garis Besarnya

Contoh sederhananya kira-kira seperti ini:

Misalkan kita berencana buat bikin web wisata jepang, dengan target akhir jadi authority blog ntar.

  1. Pilih domain yang brandable. Misal web nya tentang wisata di Jepang, kita ngga pilih placetovisitintokyo.com, tapi kita pilih visitjapan.com.. alasannya karena itu tadi, target akhir kita adalah web authority ttg wisata jepang, bukan cuma ttg Tokyo aja.
  2. Pilih satu topik micro niche untuk konten awal. Pilih yg cukup mudah untuk diranking. Misal ; Place to visit in Ishigaki Island. Kita bikin konten pilarnya, lalu konten pendukungnya..misal Taketomi Island, Kabira Bay, Tamatorizaki Observatory Point,dll. (artikel tempat wisata di Ishigaki)
  3. Optimasi onpage dan offpage sampai artikel pillar untuk topik Place to visit in Ishigaki island ini masuk page one.
  4. Setelah topik pertama diatas masuk page one, baru bikin topik micro niche lain. Misalnya mulai bikin topik Place to Visit in Sendai. Bikin artikel pillar dan artikel pendukungnya. Beri internal link dari artikel pillar topik pertama tadi. Optimasi onpage dan offpage juga topik kedua ini sampai masuk page one.
  5. Ulangi terus langkah-langkah diatas ke topik micro niche lain.

Asyiknya cara ini seperti yg saya bilang sebelumnya; efeknya seperti bola salju.

Kadang kita cukup kerja keras membangun dan optimasi 2-4 topik aja. Kesananya seringkali tinggal posting doangan+optimasi onpage, dan naik sendiri ke page one.

Kekurangannya: Ngga instant. Kecuali kalau authority web nya udah mulai terbangun, rada sedikit instant lah ntar.

Kira-kira begitu aja yg sy rasain mah..Punten tulisannya ngacapruk.. hahay

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.